Di Bawah Pimpinan Roh

Rabu, 17 Oktober 2018 – Peringatan Wajib Santo Ignasius dr Antiokhia

204

Galatia 5:18-25 

Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.

***

Paulus telah mengingatkan jemaat Galatia bahwa mereka mendapatkan keselamatan bukan dengan melakukan hukum Taurat. Mereka menerima keselamatan sebagai karunia yang diberikan oleh Allah melalui kematian Yesus di kayu salib. Yesus mempersembahkan diri sebagai kurban untuk menghapus dosa semua manusia. Karena dosa mereka sudah dihapus, manusia dianggap benar oleh Allah dan dipandang layak untuk menerima kehidupan kekal.  Kalau Allah sudah menghapus dosa manusia dan mengaruniakan keselamatan, apakah orang boleh berbuat dosa?

Untuk memperoleh keselamatan, Allah mengharapkan agar manusia percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya, yang diutus untuk menyelamatkan mereka. Allah menyertai orang-orang yang percaya kepada Kristus dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka. Roh inilah yang menuntun orang beriman untuk hidup sebagai orang yang percaya kepada Allah, yaitu hidup menurut kehendak Allah.

Kepercayaan bukanlah soal kata-kata. Menjadi orang percaya tidak cukup dengan berkata, “Aku percaya kepada Yesus Kristus.” Kepercayaan bahwa Yesus telah menyelamatkan manusia dari dosa harus diwujudkan dengan melawan kecenderungan kepada dosa. Roh yang dicurahkan Allah kepada orang beriman memberi kekuatan kepada mereka untuk melawan dosa dan untuk hidup menurut kehendak Allah.

Paulus mengingatkan bahwa kecenderungan terhadap dosa merupakan kelemahan yang harus diwaspadai. Ia menyebut kelemahan manusiawi itu sebagai perbuatan daging. Kalau kecenderungan itu diikuti, atau kalau orang membiarkan diri dikendalikan oleh kencenderungan itu, orang akan melakukan banyak dosa. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Paulus mengingatkan bahwa orang yang “melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Bagaimana orang harus melawan kecenderungan terhadap dosa? Allah telah mengaruniakan Roh yang kudus kepada orang beriman. Untuk melawan kecenderungan itu, orang beriman diajak untuk membiarkan diri dipimpin oleh Roh. Jika demikian, Roh akan menghasilkan buah-buahnya, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Mari kita renungkan:

Kita telah dibaptis dan pada waktu itulah Allah telah mencurahkan Roh yang kudus ke dalam diri kita. Roh itu menolong kita untuk hidup menurut kehendak Allah. Karena itu, kita perlu memberi tempat kepada Roh Kudus untuk berperan dalam diri kita dan membiarkan diri kita dibimbing oleh-Nya.