Memberi dengan Sukacita

Minggu, 11 November 2018 – Hari Minggu Biasa XXXII

145

Markus 12:38-44

Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

***

Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan bahwa salah satu nilai penting dalam kehidupan adalah memberi. Yesus sendiri adalah sang Pemberi yang Agung, yang datang supaya kita mempunyai hidup dalam segala kelimpahan (bdk. Yoh. 10:10). Contoh yang indah tentang sikap saling memberi dapat kita temukan dalam bacaan pertama (1Raj. 17:10-16). Kita melihat bagaimana Elia dan janda dari Sarfat saling membantu satu dengan yang lain untuk bisa bertahan hidup. Janda itu memberikan makanan terakhirnya kepada sang nabi yang kelaparan, dan ia diberkati sebagai balasannya.

Dalam bacaan Injil, Yesus menunjuk sebuah sikap memberi dari hati. Persembahan janda miskin mungkin terlihat kecil bagi orang lain, tetapi itu sebenarnya tak ternilai harganya. Yang dilakukan janda miskin itu terlihat aneh. Ia miskin, berkekurangan, tetapi tetap memberikan persembahan. Karena itulah janda miskin tersebut dipuji Yesus karena “memberikan semua yang ada padanya, seluruh nafkahnya.”

Janda miskin ini membuka mata kita bahwa kemurahan hati tidak harus menunggu kaya. Dalam kenyataan, sering terjadi bahwa kemurahan hati tersebar lebih luas di antara mereka yang memiliki sedikit jaminan hidup daripada di antara mereka yang memiliki banyak uang dan harta benda. Uang dan harta benda bisa membuat orang selalu hitung-hitungan dalam memberi. Janda miskin dari Sarfat memberikan rotinya yang terakhir kepada Elia yang kelaparan, yang jelas-jelas membutuhkan pertolongan. Tidak perlu waktu lama, tidak perlu bertanya-tanya mengapa dia bisa sampai kelaparan, janda itu melakukan apa yang dapat ia lakukan bagi sang nabi. Ia pun kemudian diberkati.

Di zaman teknologi ini, kita bisa memiliki informasi yang lebih rinci tentang penderitaan orang-orang di sekitar kita. Kadang-kadang kita bisa tergilas oleh sikap apatis melihat besarnya masalah. Di lain waktu, kita mungkin juga marah pada struktur politik dan ekonomi yang tampaknya melanggengkan keadaan ini. Kesadaran dan kemurahan hati memang seharusnya mendorong kita untuk berbicara tentang keadilan. Pada saat yang sama, kita tetap tidak boleh mengabaikan mereka yang mungkin membutuhkan hal yang kecil, yang mungkin kurang mendesak, tetapi berada di hadapan kita. Apa yang bisa kita berikan? Sentuhan pribadi adalah bagian dari pemberian, dan memberi sebagian waktu kita, perhatian kita, kenyamanan kita, kepada mereka sering kali lebih berharga daripada yang lainnya. Berikanlah semua itu dengan tulus ikhlas dan dengan sukacita karena “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor. 9:7).