Membawa yang Sakit kepada Yesus

Senin, 10 Desember 2018 – Hari Biasa Pekan II Adven

200

Lukas 5:17-26

Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.”

***

Beberapa waktu lalu ada umat yang sakit keras, sehingga harus dirawat di rumah sakit. Setelah diperiksa, ia ternyata mengalami penyempitan pembuluh darah di otaknya. Umurnya sudah lanjut dan ia hidup sebatang kara. Ketika masih sehat, ia sangat aktif dalam kegiatan menggereja dan rutin mengikuti misa harian. Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, kondisinya tidak segera membaik, bahkan sempat makin memburuk. Beberapa umat berinisiatif menghubungi saya untuk memberikan sakramen perminyakan. Puji Tuhan, setelah menerima sakramen perminyakan dan menjalani operasi, kondisinya berangsur-angsur membaik. Kini ia sudah bisa makan dan minum sendiri.

Ketika Yesus mengajar, datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh untuk minta disembuhkan oleh-Nya. Kita tidak tahu persis siapa mereka itu. Bisa jadi orang-orang itu sahabat si sakit, atau bisa juga anggota keluarganya. Yang jelas, melihat mereka, Yesus lalu berkata kepada orang lumpuh itu, “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.” Mengatakan “dosamu sudah diampuni” tentunya mudah saja, sebab tidak ada tanda lahir yang bisa membuktikan apakah dosa seseorang sungguh diampuni atau tidak.

Namun, Yesus lebih lanjut berkata kepada orang lumpuh itu, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dengan ini Yesus membuktikan kepada orang Farisi dan ahli Taurat bahwa Ia sungguh utusan Allah, yang berkuasa untuk mengampuni dosa dan menyembuhkan segala penyakit. Yesus mulai menyembuhkan dengan memenuhi kebutuhan rohani orang lumpuh itu (pengampunan dosa), baru kemudian kebutuhan jasmaninya (sembuh dari kelumpuhan).

Karena ada kepedulian dari sesamanya, orang lumpuh itu akhirnya mendapat kesembuhan jasmani dan rohani. Apakah kita juga memiliki kepedulian terhadap teman, saudara, dan khususnya orang yang lemah dan tidak mampu menolong dirinya sendiri? Bersediakah kita memberikan waktu, tenaga, perhatian, dan materi bagi orang-orang sakit agar mereka mendapat kesembuhan?