Tuhan, Sumber Kebijaksanaan

Senin, 25 Februari 2019 – Hari Biasa Pekan VII

329

Sirakh 1:1-10

Segala kebijaksanaan dari Tuhan asalnya, dan ada pada-Nya selama-lamanya. Pasir di laut dan tetes hujan, dan hari-hari kekekalan siapa gerangan dapat membilangnya? Tingginya langit, luasnya bumi, dan samudera raya dan kebijaksanaan, siapa dapat menduganya? Sebelum segala-galanya kebijaksanaan sudah diciptakan, dan pengertian yang arif sejak dahulu kala. Kepada siapakah pangkal kebijaksanaan telah disingkapkan, dan siapakah mengenal segala akalnya? Hanyalah Satu yang bijaksana, teramat menggetarkan, yaitu Yang bersemayam di atas singgasana-Nya. Tuhanlah yang menciptakan kebijaksanaan, yang melihat serta membilangnya, lalu mencurahkannya atas segala buatan-Nya. Pada semua makhluk ia ada sekadar pemberian Tuhan, yang juga membagikannya kepada orang yang cinta kepada-Nya.

***

Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini diatur oleh hukum dan aturan yang ditetapkan oleh Tuhan. Hujan turun dari langit dan tidak kembali ke langit. Air sungai mengalir ke laut dan tidak pernah kembali ke sungai. Binatang tertentu memakan daging, sedangkan binatang lain memakan tumbuhan. Ikan di laut tidak bisa hidup di darat dan binatang di darat tidak dapat hidup di laut. Semua yang hidup memerlukan air dan tanpa air semuanya akan mati.

Dalam dunia manusia juga ada hukum kehidupan yang mengatur segalanya. Orang yang malas tidak bisa menjadi kaya, dan hanya yang mau bekerja keras yang dapat menjadi kaya. Orang sombong suka memuji diri sendiri dan merendahkan sesamanya sehingga tidak disukai oleh yang lain. Anak yang tidak dididik oleh orang tua bisa berperilaku dan bersikap keliru dalam hidupnya. Bila anak tidak berperilaku baik dalam kehidupan bermasyarakat, orang tua akan malu.

Kebijaksanaan pertama-tama menunjuk pada pengetahuan mengenai hukum-hukum yang mengatur apa yang terjadi di alam ini dan yang mengatur kehidupan manusia di bumi ini. Mengingat besarnya alam semesta, selayaknya manusia mengakui kuasa Allah Pencipta yang sangat mengagumkan. Keyakinan ini mengantar manusia pada pengakuan bahwa Allah Pencipta begitu mengagumkan karena tidak hanya menciptakan apa yang hidup dan yang ada di alam semesta, tetapi juga menciptakan hukum yang mengatur semua yang ada di dalamnya dan yang mengatur kehidupan manusia.

Semua yang ada di alam semesta – yang ada di langit, di bumi, sampai yang ada di dasar samudra – diatur oleh hukum itu. Kehidupan manusia, baik yang ada di dalam pikiran maupun di dalam relasi dengan sesamanya, diatur oleh hukum tersebut. Mengingat semua ciptaan diatur oleh hukum itu dan semuanya adalah ciptaan Allah, Allahlah yang menguasai hukum-hukum itu. “Tuhan sendirilah yang menciptakan kebijaksanaan; Ia melihatnya dan menghargainya. Segala ciptaan-Nya dipenuhinya dengan kebijaksanaan.” Karena itulah, Allah dipandang sebagai sumber kebijaksanaan dan segala kebijaksanaan berasal dari Dia. “Hanya Satu yang bijaksana, yaitu Dia yang duduk di atas takhta. Kita harus takut dan hormat kepada-Nya.” Dengan berbagai kiasan, Yesus bin Sirakh menggambarkan betapa dahsyatnya kebijaksanaan Allah dan betapa kecilnya manusia di hadapan-Nya, “Siapa dapat menghitung pasir di pantai, titik-titik air hujan atau hari-hari segala abad?”

Para guru kebijaksanaan, termasuk Yesus bin Sirakh, mengakui bahwa sehebat apa pun mereka, mereka tidak akan sanggup menguasai seluruh kebijaksanaan. Semua orang memang harus mempelajari kebijaksanaan supaya dapat hidup dengan benar dan berbahagia, tetapi semuanya harus mengakui keterbatasan mereka dalam memahami kebijaksanaan. Karena Allah adalah sumber kebijaksanaan, harus diakui bahwa manusia hanya menerima kebijaksanaan dari Dia. Setiap orang yang menerima kebijaksaan diundang untuk membagikannya kepada sesama, khususnya kepada orang yang mengasihi-Nya.