Hati Seorang Hamba

Selasa, 12 November 2019 – Peringatan Wajib Santo Yosafat

88

Lukas 17:7-10

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

***

Mungkin kita pernah melihat sebuah pertunjukan yang melibatkan binatang, misalnya pertunjukan lumba-lumba, singa laut, harimau, dan sebagainya. Kalau kita perhatikan, setiap kali binatang-binatang itu berhasil melakukan tindakan yang sesuai dengan harapan sang pelatih, mereka akan mendapat hadiah berupa makanan yang mereka gemari. Sebab, selain sesuai dengan arahan, tindakan tersebut biasanya mengagumkan, sehingga para penonton pun bersorak bersorak gembira dan bertepuk tangan.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, baik secara sadar maupun tidak, kita sering kali bersikap seperti binatang-binatang dalam pertunjukan tersebut. Ketika kita melakukan suatu perbuatan baik dan saleh tertentu, kita berharap mendapatkan hadiah, entah itu berupa materi (misalnya uang) maupun nonmateri (misalnya pujian).

Ketika kita berhasil atau telah menyelesaikan tugas-tugas kita, Yesus mengajak kita untuk mengambil sikap seorang hamba. Kita tidak boleh menjadi sombong, minta dihargai, dipuji, disanjung, ataupun imbalan-imbalan lainnya. Sebagai seorang hamba, setelah melakukan suatu perbuatan baik, hendaknya kita berkata, “Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”