Sisi Manusiawi

Rabu, 11 Maret 2020 – Hari Biasa Pekan Prapaskah II

93

Matius 20:17-28

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

***

Sehebat-hebatnya seseorang, selalu ada sisi manusiawi yang membuat orang itu rapuh atau mudah terjatuh. Manusia, siapa pun itu, pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki kelemahan. Kenyataan ini kiranya menjadi peringatan bagi kita semua agar jangan suka membanggakan diri sendiri dan merendahkan orang lain.

Bacaan pertama kita hari ini (Yer. 18:18-20) mengunjukkan sisi manusiawi Nabi Yeremia. Banyak orang berusaha melawan dirinya. Ujian berat siap menimpa Yeremia karena para musuh sedang menggali lubang baginya. Sebagai manusia, Yeremia ketakutan. Ia pun kemudian berkeluh kesah kepada Allah. Ia meminta bantuan Allah agar kemelut yang sedang dialaminya bisa segera berlalu.

Sementara itu, dalam bacaan Injil hari ini, Matius melukiskan sisi manusiawi murid-murid Yesus. Mereka berambisi akan kekuasaan dan jabatan. Namun, Yesus segera menyadarkan mereka. Sebagai pengikut Yesus, mereka harus berani memikul salib dan melayani sesama sebagaimana Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

Kita pun masing-masing memiliki sisi manusiawi. Pada saat-saat tertentu, bisa jadi kita merasa tidak berdaya menghadapi kesulitan hidup yang tampaknya melampaui kekuatan kita. Kita rapuh, mudah jatuh, dan tidak selalu dalam keadaan stabil. Alih-alih putus asa, keadaan seperti itu hendaknya justru membuat kita teringat akan Allah. Kita membutuhkan pertolongan dari-Nya, sehingga baiklah kalau setiap saat kita bersandar pada-Nya dan mengandalkan diri-Nya.