Gembala yang Baik

Minggu, 3 Mei 2020 – Hari Minggu Paskah IV

94

Yohanes 10:1-10

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari darinya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

***

Di dalam sebuah video yang pernah saya tonton, sejumlah turis tampak sedang mengunjungi sebuah peternakan domba. Saat itu, domba-domba sedang berada di padang rumput. Pemilik peternakan mengajukan tantangan kepada turis-turis itu. Tantangannya adalah memanggil domba untuk mendekat. Kalau ada yang berhasil, pemilik peternakan akan memberi mereka hadiah.

Para turis lalu mencoba memanggil domba-domba itu. Ada yang bersiul, ada yang bertepuk tangan, ada juga yang berteriak-teriak. Anehnya, tidak ada domba yang menanggapi. Semua bersikap masa bodoh dan asyik makan rumput. Setelah turis-turis itu menyerah, pemilik peternakan memberi kesempatan kepada karyawannya, seorang gembala. Si gembala mulai mengeluarkan suara-suara dari mulutnya. Sungguh mengejutkan, domba-domba itu berhenti makan, lalu mulai bergerak ke sumber suara!

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyebutkan sebuah benda untuk menyampaikan ajaran-Nya. Benda itu adalah “pintu.” Rumah kita ada pintunya. Pintu ditutup agar pencuri tidak bisa masuk, dan itulah salah satu kegunaannya, yakni menutup jalan bagi orang yang tidak berhak agar tidak bisa mengambil milik orang lain. Yang boleh keluar masuk melalui pintu hanyalah sang pemilik rumah.

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pintu. Di balik “pintu Yesus,” ada padang rumput yang memberikan kehidupan. Kita yang ingin memperoleh kehidupan harus memilih untuk melewati pintu itu. “Pintu Yesus” adalah jaminan bagi kehidupan yang baik dan benar, sekaligus jaminan keselamatan.

Pada masa Yesus, “pintu” juga berarti gerbang kota, tempat orang berkumpul dan menyelesaikan permasalahan. Di gerbang kota, orang akan memperoleh keadilan dan perlindungan. Ketika menyatakan diri sebagai pintu, Yesus dengan itu memperkenalkan diri-Nya sebagai pemimpin yang membawa keadilan dan kebaikan. Dengan berpegang pada Yesus, kita mendekat pada yang adil dan yang baik. Sabda dan teladan hidup Yesus adalah keadilan dan kebaikan.

Gembala dalam video yang saya tonton memanggil domba-domba, dan domba-domba menanggapi panggilannya. Gembala yang baik memang selalu mengenal domba-dombanya. Saudara-saudari terkasih, Tuhan juga mengenal kita. Ia memanggil kita satu persatu. Sebagaimana Tuhan memanggil Maria Magdalena yang sedang bersedih di makam, Ia juga memanggil nama Anda dan saya. Yesus begitu dekat dengan kita. Ia tahu tentang diri kita dan ingin memberikan yang baik untuk hidup kita.

Namun, ada banyak pintu di dunia ini. Ada juga banyak pencuri dan perampok yang selalu memanggil kita. Pintu mana yang Anda pilih? Suara mana yang Anda dengarkan? Suara pencuri dan perampok, atau suara Yesus sang Gembala?