Sukacita yang Penuh

Jumat, 14 Mei 2021 – Pesta Santo Matias

65

Yohanes 15:9-17

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

***

Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai pokok anggur dan para pengikut-Nya sebagai ranting-ranting pokok anggur itu (Yoh 15:1-8). Sekarang Ia hendak menerapkan perumpamaan tentang pokok anggur tersebut. Yesus mengungkapkan hubungan kasih antara Bapa, diri-Nya, dan para murid-Nya. Seperti Bapa telah mengasihi Yesus, demikianlah Yesus mengasihi para murid-Nya.

Yesus bersabda, “Supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Sering kali sukacita para pengikut Kristus dibayangkan sebagai selesainya semua masalah atau terlepasnya semua beban berat. Seolah-olah kalau orang percaya kepada Kristus, ia tidak lagi menghadapi masalah. Yesus masuk ke dalam dunia untuk menjalani hidup seorang manusia dan mengalami derita hidup di dunia. Selama manusia hidup di dalam dunia, ia tidak lepas dari permasalahan dan kesulitan. Namun, semua itu tidak menghalangi kita untuk bersukacita, sebab sukacita kita bersumber pada persatuan kita dengan Kristus.

Selama kita menjalani hidup bersama dengan Tuhan, kita akan merasakan sukacita sekalipun harus menanggung derita dan menghadapi berbagai persoalan. Persatuan kita dengan Kristus membuat kita sadar bahwa Ia memahami apa pun yang terjadi pada diri kita dan senantiasa menyertai kita dalam menjalani kehidupan ini. Lebih dari itu, sukacita kita akan menjadi lebih kuat bila kita sadar akan semua yang telah dilakukan Kristus bagi kita. Kita hanyalah manusia berdosa, yang seharusnya bersedih menantikan hukuman yang akan dijatuhkan Tuhan karena dosa-dosa kita. Namun, Yesus rela mati supaya kita terlepas dari belenggu dosa. Sukacita akan karya Kristus itu juga akan membantu kita untuk berjuang bersama-Nya mengatasi segala godaan dosa.

Kasih Yesus kepada para murid-Nya dan kepada semua manusia tidak hanya diungkapkan dalam kata-kata saja. Ia mengungkapkan kasih itu dalam tindakan yang nyata. Kasih-Nya itu diungkapkan melalui keterlibatan-Nya dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan Yesus, kita dapat melihat dan mengalami keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia. Dalam diri Yesuslah keterlibatan Allah dalam hidup manusia menjadi penuh. Dia yang adalah Allah telah menjadi manusia, dan mengalami kehidupan sebagai seorang manusia. Terutama, Ia mempersembahkan diri di kayu salib untuk menyelamatkan manusia.