Membalas Kejahatan dengan Kebaikan

Senin, 14 Juni 2021 – Hari Biasa Pekan XI

49

Matius 5:38-42

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam darimu.”

***

Orang memiliki tendensi untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Ini bahkan dilegalkan dalam kitab hukum. Yang lebih buruk lagi, ada orang yang membalas kebaikan dengan kejahatan, seperti yang dialami oleh Yesus sendiri. Ia melakukan begitu banyak kebaikan dan menawarkan keselamatan, tetapi dibenci, ditolak, bahkan disalibkan. Walaupun diperlakukan secara buruk oleh banyak orang, Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya. Ia menghendaki supaya murid-murid-Nya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan.

Inilah sikap pengikut Yesus, sikap kristiani yang tepat, yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan. Sikap ini kiranya berasal dari ilham ilahi, dorongan dari Allah sendiri. Inilah ciri utama Yesus. Ia mengatasi kejahatan yang dilakukan pada-Nya dengan kebaikan. Pada saat ditolak secara kejam, Ia mengungkapkan cinta-Nya yang paling besar. Yesus hidup dan mati untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Adalah tantangan yang tidak mudah untuk tetap mengedepankan kebaikan ketika berhadapan dengan kejahatan, untuk tetap mengasihi ketika berhadapan dengan kebencian, untuk tetap setia ketika dikhianati, untuk tetap menjadi pembawa damai di tengah dunia yang penuh dengan permusuhan. Kita tidak bisa melakukannya hanya dengan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan kekuatan Allah, daya juang yang berasal dari Allah sendiri.

Sejatinya, kekuatan dan rahmat ini telah dijanjikan kepada kita sebagaimana disampaikan oleh Santo Paulus, “Kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima” (2Kor. 6:1). Allah selalu memberkati kita, dan jika kita mengandalkan kasih karunia-Nya, kita dapat terus maju menuju pada cita-cita untuk mengatasi kejahatan dengan kebaikan.