Teruslah Berbuat Baik

Senin, 6 September 2021 – Hari Biasa Pekan XXIII

66

Lukas 6:6-11

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

***

Seorang teman pernah bercerita betapa ia kecewa berat karena orang-orang yang pernah dibantunya tidak peduli dengannya saat ia membutuhkan pertolongan. Ia pun memutuskan untuk tidak banyak membantu orang lagi. Saya juga sering mendengar keluhan bahwa ada orang yang tidak menghargai orang lain yang telah berbuat baik kepadanya. Jika Anda mengalami hal demikian, apakah Anda akan berhenti berbuat baik?

Yesus sering mengalami perlakuan yang sama seperti cerita di atas. Dia ditolak dan dibenci kendati telah melakukan kebaikan. Inilah yang terjadi dalam bacaan Injil hari ini. Yesus menyembuhkan orang di rumah ibadat pada hari Sabat. Dari awal, orang-orang yang ada di situ sudah mencari-cari alasan untuk menyalahkan Yesus. Anehnya, dasar mereka untuk menyalahkan Yesus adalah karena Ia menyembuhkan orang yang mati salah satu tangannya pada hari Sabat. Dalam keyakinan orang Yahudi, hari Sabat adalah hari yang sakral, di mana orang tidak boleh bekerja. Sabat adalah hari bagi Tuhan. Itulah alasan yang mendasari mereka untuk menyalahkan Yesus, kendati yang dibuat Yesus adalah hal yang baik.

Yesus kemudian menanggapi mereka dengan bertanya, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Bagi Yesus, aturan bukanlah penghalang bagi seseorang untuk berbuat kebaikan. Pertanyaan Yesus ini juga diajukan kepada kita dengan bahasa yang berbeda: Apakah karena aturan, kita lalu berhenti berbuat baik? Apakah karena ada penolakan dan kurang diapresiasi, kita lalu tidak mau lagi berbuat baik? Yesus memberikan teladan bahwa kendati orang marah dan menyalahkan perbuatan baik yang dibuat-Nya, Ia terus berbuat kebaikan.

Berbuat kebaikan adalah identitas orang Katolik, sebab Yesus mengajarkan dan meneladankan demikian. Oleh karena itu, ketika kita berhenti dan tidak mau lagi berbuat kebaikan, kita sesungguhnya telah kehilangan jati diri kita sebagai pengikut Yesus.

Marilah berdoa: “Tuhan, teguhkanlah kami untuk selalu berbuat kebaikan seperti Engkau yang tiada henti memberikan kasih-Mu kepada kami.”