Rumah-Ku Adalah Rumah Doa

Jumat, 19 November 2021 – Hari Biasa Pekan XXXIII

56

Lukas 19:45-48

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

***

Hal negatif yang bisa muncul dari sebuah kelompok pertemanan adalah adanya tekanan. Misalnya, kita mengikuti grup tertentu yang selalu bersama-sama dalam segala sesuatu: Jalan bersama, makan bersama, nongkrong bersama, ziarah pun bersama. Sesama anggota grup begitu akrab satu dengan yang lain. Jika kita ingin tetap berada di dalam grup ini, jika kita ingin diterima oleh anggota yang lain, jika kita tidak ingin dianggap aneh, yang harus kita lakukan adalah tunduk dan ikut. Hal itu mungkin berarti bahwa kita harus tetap diam dan tidak melakukan apa-apa ketika melihat ketidakadilan, penindasan, korupsi, dan perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral yang terjadi di depan kita.

Bacaan Injil hari ini bercerita tentang Yesus yang masuk ke Bait Allah dan membersihkannya. Ketika Yesus melakukan ini, Ia sudah tahu dan sadar bahwa ada harga atas kepala-Nya. Hidup-Nya dipertaruhkan, sebab imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat siap menjatuhkan kesalahan pada-Nya.

Itulah tekanan yang dialami Yesus. Kalau Yesus takluk pada tekanan itu, Ia harusnya diam dan tidak melakukan apa-apa meskipun melihat skandal dan ketidaksopanan yang terjadi di sekitar-Nya. Namun, bagaimana mungkin Yesus bersikap begitu, lebih lagi karena semua itu terjadi di Bait Suci, di rumah Bapa-Nya! Itu adalah Bait Suci yang dalam bacaan pertama hari ini (1Mak. 4:36-37, 52-59) ditahbiskan kembali dengan begitu banyak penghormatan dan kegembiraan setelah dinodai oleh bangsa-bangsa asing. Orang-orang bersujud dalam pemujaan sambil memuji, sebab Allah bersama mereka lagi. Ini karena Bait Suci melambangkan kehadiran Allah di antara mereka.

Jadi, ketika Yesus membersihkan Bait Suci dengan mengusir mereka yang menjual dan memanfaatkan Bait Suci untuk keuntungan sendiri, Ia tidak hanya mengusir ketidakadilan dan korupsi dari tempat kudus. Lebih dari itu, Ia juga mengembalikan Bait Suci kepada martabat sucinya sebagai tempat kediaman Allah, tempat perlindungan bagi mereka yang membutuhkan dan yang berada dalam kesulitan, tempat bagi kehidupan dan cinta, serta rumah doa.

Yesus juga ingin membersihkan Bait Suci yang ada di dalam hati kita. Hati kita adalah rumah doa, tempat kediaman Allah. Semoga kita menjaganya agar tetap suci, murni, dan selalu dipenuhi dengan kasih Tuhan.