Tuhan atas Hari Sabat

Selasa, 18 Januari 2022 – Hari Biasa Pekan II

84

Markus 2:23-28

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

***

Ketika umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir, mereka diminta untuk menguduskan hari Sabat. Hari Sabat hendaknya mereka pakai untuk beristirahat dan untuk memuliakan keagungan Tuhan. Saat menjadi budak, mereka tidak memiliki waktu istirahat. Penetapan satu hari untuk beristirahat dengan demikian merupakan tanda bahwa sekarang mereka adalah orang-orang merdeka. Sayangnya, pada zaman Yesus, ketentuan hari Sabat sebagai hukum agama telah dicabut dari konteksnya, sehingga menjadi peraturan yang kaku.

Hari ini Yesus bersabda, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Sabda ini sering dikutip orang dalam berbagai kesempatan. Dengan ini kita diingatkan agar memiliki keseimbangan dalam bekerja dan beristirahat.

Saat saya masih sebagai imam muda, didorong oleh semangat pelayanan dan rasa tanggung jawab, pernah saya bekerja tanpa waktu istirahat. Sepanjang hari saya bekerja di sekolah, sore sampai malam melayani umat paroki. Pada hari Sabtu dan Minggu, jadwal misa yang padat sudah menanti. Beberapa bulan kemudian, saya jatuh sakit. Saya perlu menjalani opname di rumah sakit selama sepuluh hari, ditambah waktu cuti untuk pemulihan selama sepuluh hari lagi. Karena peristiwa itu, kemudian saya paham bahwa istirahat adalah hak yang perlu diberikan kepada tubuh. Bila tubuh tidak diberi waktu untuk beristirahat, dia akan memintanya dengan satu dan lain cara.