Mengikuti Jejak Bapa

Sabtu, 12 Maret 2022 – Hari Biasa Pekan I Prapaskah

59

Matius 5:43-48

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

***

Ada pepatah mengatakan: “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Pepatah ini berarti sifat seorang anak tidak jauh dari sifat orang tuanya. Selaras dengan itu, jika kita ini adalah anak-anak Allah, sudah seharusnya kita mengikuti jejak Allah. Hari ini bacaan Injil berseru kepada kita: “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” Seruan ini mengajak kita untuk mengikuti jejak kesempurnaan Allah Bapa. Kita dipanggil pada kesempurnaan hidup sebagai anak-anak Allah. Bagaimana bentuk kesempurnaan itu?

Allah Bapa menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi semua orang, tanpa membedakan yang baik dan yang jahat. Hal ini tidak berarti orang baik dan orang jahat sama saja bagi Tuhan, tetapi hendak menegaskan sikap-Nya yang maha pengasih dan pemurah. Tuhan berbuat baik kepada semua orang, bahkan kepada orang-orang berdosa. Inilah keteladanan agung yang ditunjukkan-Nya kepada kita. Kita diminta untuk meneladani hal itu, yakni dengan mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Dengan itu, kita menjadi anak-anak Bapa yang di surga.

Ciri-ciri anak Bapa di surga adalah mampu mengampuni, mampu mengasihi musuh, dan mampu mencintai orang yang membenci. Tanpa kemampuan itu, kita tidak lebih dari orang-orang egois, orang-orang yang berpusat pada diri sendiri. Dengan belajar menjadi sempurna berarti kita berproses mengikuti Bapa. Proses ini tentu tidak mudah. Tantangannya begitu banyak, sehingga bisa jadi membuat kita nyaris putus asa dan menyerah. Namun, perlu kita sadari bahwa yang terutama sebenarnya bukan hasil, melainkan prosesnya. Tuhan senantiasa menghargai perjuangan kita untuk menjadi pribadi yang sempurna.

Jika mampu berbuat baik, untuk apa kita berbuat jahat? Jika mampu mengasihi, untuk apa kita membenci? Jika mampu memberkati, untuk apa kita mengutuki? Dalam Masa Prapaskah ini, mari kita berjuang untuk mengikuti jejak Allah Bapa yang sempurna. Meskipun secara manusiawi kita memiliki banyak kelemahan, mari kita berusaha terus-menerus supaya tidak jauh dari Allah, sumber kesempurnaan hidup manusia.