Menjadi Pewarta yang Tahu Diri

Kamis, 1 September 2022 – Hari Biasa Pekan XXII

96

Lukas 5:1-11

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

***

Tibalah saat bagi Yesus untuk memilih dan melibatkan para murid-Nya yang pertama. Di hadapan massa yang membeludak di pantai, sang Guru menyuruh Petrus: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Perintah Yesus ini sungguh menantang Petrus. Sebagai nelayan kawakan dengan pengalaman segudang, ia tahu persis bahwa saat menangkap ikan sudah lewat. Nelayan lain akan bilang apa? Pasti akan memalukan, sebab ia menangkap ikan pada saat yang salah. Semalam ‘kan sudah gagal total! Ini pun sering menjadi pertanyaan para pemberita Injil sampai kini: Sudah memakai segala cara dan metode, sudah menghabiskan banyak dana, riset, buku, tenaga, pelatihan, dan sebagainya, tetapi mengapa pewartaan kita tidak ada hasilnya? 

Namun, Petrus berani mengambil risiko. Ia berkata, “Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Petrus memilih untuk mengikuti sabda Yesus. Ia berhenti menghitung untung rugi berdasarkan pengalaman dan keahliannya. Ia berani mengambil risiko dipermalukan dan ditertawakan sesama nelayan!

Sebagaimana Petrus, para pemberita Injil tidak perlu selalu mengandalkan kalkulasi nalar. Mereka harus berani melampaui kepastian dan jaminan akal sehat. Betapa sering pewartaan sabda terganggu dan tidak pernah mulai karena kita terus membuat kalkulasi untung rugi dan mencemaskan harga diri. Betapa sering pewartaan sabda gagal karena kita terlalu gemar memprediksi hasil, selalu mau semuanya berjalan mulus, jelas terukur, dan rapi tersusun. Yesus menuntun Petrus untuk berani mengambil risiko dan membuat “lompatan” iman. Hasilnya sungguh luar biasa: Tangkapan yang dashyat! Hasil pemberitaan yang didasarkan pada iman selalu amat hebat dan tidak terbayangkan.

Pengalaman akan kemahakuasaan Tuhan langsung menghadirkan kesadaran dalam diri Petrus. Ia berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Petrus dituntun lewat pengalaman, lewat kebesaran karya Tuhan yang disaksikannya sendiri, lewat kehebatan kuasa firman-Nya! Pengalaman inilah yang menyadarkan Petrus akan keterbatasan akal dan kemampuannya sebagai manusia. Di titik itulah, Tuhan membuat kejutan. Petrus yang sudah “tahu diri” itu justru diberi peneguhan, “Jangan takut,” dan kepercayaan, “Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Tuhan berbagi misi-Nya dengan orang yang tahu diri, bukan dengan orang yang percaya diri.