Cahaya Iman

Senin, 19 September 2022 – Hari Biasa Pekan XXV

71

Lukas 8:16-18

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, darinya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”

***

Sebuah pelita berfungsi untuk menerangi, maka sudah semestinya diletakkan di tempat yang tinggi. Oleh karena itu, Yesus bersabda, ”Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.” Jadi, tempat pelita ada di atas, bukan di bawah.

Saudara-saudari terkasih, kita dipanggil untuk menjadi pelita bagi orang-orang di sekitar kita. Bagaikan pelita, kita bertugas untuk menerangi mereka. Karena itu, sudah semestinya kita tampil percaya diri sebagai orang Katolik. Saya sangat senang ketika melihat orang-orang Katolik tampil percaya diri dan berani mewartakan imannya di media sosial. Hal ini memicu rasa keingintahuan di tengah umat untuk memperdalam iman Katolik. Kita juga memiliki banyak referensi dan akses untuk semakin memahami ajaran iman. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa masih ada yang minder dengan imannya. Mereka memilih untuk bersembunyi dan bungkam, layaknya pelita yang bersinar di bawah tempat tidur. Ada juga yang hanya berani di dalam kelompoknya, layaknya pelita yang bersinar di dalam tempayan.

Analogi pelita menyadarkan kita bahwa hidup ini bukan soal durasi, melainkan kontribusi. Kontribusi kita bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Sekecil apa pun perbuatan baik kita, itu bagaikan seberkas cahaya yang menyinari hidup orang lain. Semakin sering kita berbuat baik, semakin besar cahaya iman kita dan semakin banyak orang tercerahkan. St. Thomas Aquinas berkata, “Lebih baik menyinari daripada sekadar bersinar, membawa orang kepada renungan akan kebenaran daripada sekadar merenung.” Marilah kita menjadi pelita Tuhan. Selamat beraktivitas. Tuhan memberkati kita!