Amos 6:1a, 4-7

“Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria,

yang berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun; yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya; yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! Sebab itu sekarang, mereka akan pergi sebagai orang buangan di kepala barisan, dan berlalulah keriuhan pesta orang-orang yang duduk berjuntai itu.”

***

Bacaan pertama dalam perayaan Ekaristi hari Minggu ini diambil dari kitab Amos, yang berisi kritikan keras dari sang nabi. Amos mengecam orang-orang terkemuka yang tinggal di Samaria, ibu kota kerajaan Israel. Mereka ini tentu saja kaum berada, tetapi bukan itu saja, mereka juga memiliki kekuasaan serta pengaruh besar di bidang sosial politik yang berdampak bagi kehidupan banyak orang.

Orang-orang itu dikecam karena hidup seenaknya. Mereka merusak hidup mereka sendiri dengan pesta dan sukaria tiada henti. Mereka berfoya-foya dengan fasilitas yang paling baik (tempat tidur dari gading), makanan dan minuman yang paling enak (daging domba dan anggur), serta hiburan yang paling meriah (lagu-lagu dengan iringan gambus). Mengapa pesta-pesta tersebut dikecam oleh Amos?

Setidaknya ada dua alasan untuk itu. Pertama, mereka berpesta pora dengan uang yang didapat dengan cara yang tidak baik, yakni dari hasil memeras orang lemah dan menginjak orang miskin. Kedua, orang-orang kaya itu tidak peduli dengan keadaan sekitar. Bagaimana mungkin mereka terus bersenang-senang, padahal di sekeliling mereka banyak orang miskin yang berkesusahan? Jelas bahwa dengan berlaku demikian, orang-orang kaya tersebut telah melakukan ketidakadilan. Tuhan tentu saja tidak berkenan kepada mereka.

Sebagai konsekuensi, inilah nubuat penghakiman dari Amos: Nasib orang-orang itu akan dibalik seratus delapan puluh derajat. Bangsa yang utama akan dijadikan bangsa yang terendah. Mereka akan dibuang ke tanah asing, dan dalam pembuangan itu, para bangsawan akan ditaruh di barisan yang paling depan. Kemeriahan pesta pun berlalu, berganti dengan ratap tangis yang memilukan. 

Kritik Amos dalam perikop ini sangat relevan sampai sekarang, apalagi bagi kita yang hidup di negeri dengan tingkat korupsi yang sangat tinggi, di mana banyak orang gemar memperkaya diri sendiri secara tidak halal. Dengan berbagai cara yang licik, orang-orang itu mengambil uang yang bukan hak mereka. Tentu saja uang itu mereka pakai untuk memperkaya diri sendiri, yakni agar mereka dapat bersenang-senang dan hidup dalam kemewahan.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, kita tidak boleh diam saja. Jika kita diam membisu, lebih lagi jika kita malah berada dalam satu barisan dengan para koruptor, negeri kita tercinta ini perlahan-lahan akan hancur, tinggal menanti saat yang tepat saja. Katakan tidak pada korupsi. Mari kita budayakan hidup dalam kebenaran dan keadilan.