Kemesiasan Yesus

Senin, 29 Juni 2026 – Hari Raya Santo Petrus dan Paulus

11

Matius 16:13-19

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

***

Setelah para murid menjawab pertanyaan Yesus tentang pandangan orang-orang akan Anak Manusia, Simon Petrus mewakili para murid yang lain mencoba menjawab pertanyaan Yesus tentang siapakah Dia menurut mereka, para murid-Nya. “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” demikian Simon menjawab. Jawaban tersebut benar adanya. Yesus memang Mesias, Anak Allah yang hidup. Yesus pun memuji Simon sebagai yang berbahagia. Selain itu, Yesus juga memberikan kunci Kerajaan Surga kepadanya, sehingga apa yang diikat Simon di dunia akan terikat di surga, demikian juga apa yang dilepaskan Simon di dunia akan terlepas di surga.

Namun, sebenarnya konsep kemesiasan Yesus yang dipahami Simon dan para rasul yang lain masih berbeda dengan yang dimaksudkan oleh Allah. Para murid masih memahami gelar kemesiasan Yesus dalam arti politis. Yesus mereka anggap sebagai pembebas bangsa Israel dari perbudakan bangsa Romawi.

Berbeda dengan itu, konsep kemesiasan Yesus menurut Allah lebih terkait dengan gambaran hamba Tuhan yang menderita, yakni sebagai hamba yang taat, menderita, dan menanggung dosa umat manusia. Karenanya, ketika Simon menolak mentah-mentah perkataan Yesus bahwa diri-Nya akan pergi ke Yerusalem untuk menderita, mati, dan dibangkitkan, Yesus dengan tegas mengoreksi konsep kemesiasan itu agar semakin selaras dengan kehendak Allah.

Inilah saat yang tepat bagi kita juga untuk melihat kembali siapakah Yesus bagi kita. Jika ternyata pandangan kita masih belum sempurna, mari kita mengoreksinya. Sering kali kita terpaku pada kejayaan Yesus, sehingga kita melihat Dia sebagai Mesias yang mulia. Kita berpikir mengikut Yesus pasti akan membuat hidup kita tenang dan aman, bebas dari segala masalah. Namun, jangan dilupakan bahwa kemuliaan itu ditempuh Yesus melalui jalan salib. Yesus adalah Mesias yang menderita, yang mau bersedia mati di kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia.

Jalan salib Yesus menjadi jalan salib kita juga. Sebagai murid-murid Yesus, kita harus siap menanggung duka derita kehidupan ini. Bukan berarti kita dengan itu kita tidak diberkati. Kita percaya bahwa setiap penderitaan memiliki makna, baik bagi keselamatan kita sendiri, maupun bagi keselamatan bersama. Kesediaan menanggung salib menunjukkan bahwa kita sudah memahami kemesiasan Yesus dengan baik, tidak keliru lagi.