Kesetiaan dalam Ketaatan

Minggu, 10 Mei 2026 – Hari Minggu Paskah VI

13

Yohanes 14:15-21

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

***

Salah satu kaul yang diikrarkan oleh kaum religius adalah kaul ketaatan. Bagi orang kebanyakan, ini mungkin agak aneh. Di tengah dunia yang mengagung-agungkan otonomi dan hak penuh atas diri sendiri, kok bisa ada orang yang berjanji untuk taat kepada orang lain? Memang ketaatan itu tidak mudah. Tidak sedikit calon imam, biarawan, dan biarawati yang akhirnya mundur karena tidak tahan dengan kehidupan yang penuh dengan aturan yang harus ditaati. Ketaatan dianggap berlawanan dengan kebebasan, padahal dalam ketaatan ada kebebasan dan kasih.

Yesus hari ini mengemukakan sebuah kebenaran yang sederhana, namun sangat menantang: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Menuruti segala perintah berarti taat. Dengan ini, Yesus memperlihatkan hubungan antara kasih dan ketaatan. Kasih kepada Allah bukan sekadar romantisisme perasaan hangat di dalam hati, atau kata-kata indah dalam doa dan nyanyian rohani. Kasih sejati kepada Allah terwujud dalam ketaatan kepada-Nya, dalam kesediaan untuk hidup menurut kehendak-Nya yang sering kali tidak mudah.

Kehendak Allah sering kali bertentangan dengan keinginan dunia. Dunia zaman ini mengajarkan kita untuk mengejar kenyamanan, kesenangan, keuntungan pribadi, dan kesuksesan. Untuk memenuhi keinginan-keinginan duniawi tersebut, banyak orang yang menghalalkan segala cara. Sebaliknya, Allah menghendaki dari kita pengorbanan, kejujuran, kesetiaan, dan kasih kepada sesama, sesuatu yang tidak mudah dijumpai sekarang ini. Di titik inilah, ketaatan menjadi ujian. Mengasihi Tuhan berarti berani memilih jalan sempit yang hampir selalu penuh dengan penderitaan.

Namun, Yesus tidak pernah membiarkan kita sendirian. Ia tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Ia berjanji akan mengutus Penolong, yakni Roh Kudus, yang akan menyertai, menghibur, dan menguatkan kita. Kehadiran Roh Kudus adalah tanda bahwa kasih Allah begitu dekat dan begitu nyata, bahkan dalam pergumulan kita yang paling berat. Kita tidak perlu takut. Kita patut meneladan Bapa Suci Leo XIV yang dengan berani menentang perang yang sedang berlangsung di Iran, dan mendesak agar perang itu segera dihentikan karena bertentangan dengan nilai-nilai Injil. Bapa Suci menyerukan hal itu tanpa keraguan sedikit pun, meski dia harus berseberangan dengan para pemimpin negara besar.

Ketaatan kepada Tuhan memang sering kali tidak menghadirkan kenyamanan. Kita bahkan sering kali kita harus melewati penderitaan. Namun, penderitaan itu tidak sia-sia, sebab di sanalah kita mengalami kehadiran Tuhan secara nyata. Roh Kudus bekerja dalam hati kita, memberi keberanian ketika kita takut, memberi penghiburan ketika kita terluka, dan memberi harapan ketika kita hampir menyerah. Dengan tetap setia pada kehendak Tuhan, kebahagiaan dan ketenangan batin akan kita dapatkan.

Yesus juga berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku.” Ini adalah janji yang luar biasa: Dalam ketaatan, kita tidak hanya menunjukkan kasih kita kepada Tuhan, tetapi juga semakin mengalami kasih Tuhan dalam hidup kita.

Marilah kita memohon rahmat kesetiaan kepada Tuhan, terlebih ketika kita dihadapkan pada pilihan sulit antara mengikuti kehendak Tuhan atau arus dunia. Kita mohon agar kita tetap menyadari bahwa kita tidak berjalan sendirian. Tuhan menyertai kita; Roh Kudus pun tinggal di dalam diri kita. Kita bukan anak yatim piatu, melainkan anak-anak yang dikasihi Bapa. Dalam setiap langkah ketaatan kepada kehendak Allah, sekalipun berat, ada kasih Tuhan yang memeluk dan menguatkan kita.