Bersaksi Bersama Roh Kudus

Senin, 11 Mei 2026 – Hari Biasa Pekan VI Paskah

12

Yohanes 15:26 – 16:4a

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.”

***

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memberi kesaksian tentang iman kita. Sejumlah rekan suster pernah berbagi cerita tentang beberapa orang yang akhirnya memutuskan menjadi katekumen setelah mendengarkan penjelasan mereka tentang iman Katolik. Saya pernah melihat juga seorang remaja laki-laki yang bersaksi dengan cara membuat tanda salib dan berdoa tanpa ragu sebelum makan di restoran. Banyak juga orang yang melalui perbuatan-perbuatan baik mereka membawa orang lain bertobat dan kembali kepada Kristus. Semuanya menjadi saksi iman dengan cara mereka masing-masing.

Yesus hari ini menyampaikan pesan yang menantang, tetapi sekaligus meneguhkan, terkait kesaksian iman. Ia berbicara tentang kedatangan Roh Penolong, yakni Roh Kebenaran, yang akan bersaksi tentang Dia. Namun, tidak berhenti di situ, Ia juga menegaskan bahwa para murid pun harus menjadi saksi. Pesan yang sama juga disampaikan Yesus kepada kita saat ini. Pesan ini bukan sekadar ajakan, melainkan juga tugas yang melekat pada identitas kita sebagai pengikut Kristus.

Menjadi saksi Kristus berarti menghadirkan Dia dalam hidup sehari-hari melalui perkataan, sikap, dan tindakan. Yesus tidak menyembunyikan kenyataan bahwa menjadi saksi itu tidak mudah. Dengan terbuka, Ia mengatakan bahwa para pengikut-Nya akan menghadapi penolakan dan penganiayaan, bahkan ada kemungkinan dikucilkan, disalahpahami, atau dianggap asing di lingkungan sendiri. Mengapa? Karena dunia tidak selalu menerima terang, sebab terang akan menyingkapkan apa yang tersembunyi.

Di sinilah kita belajar bahwa menjadi saksi Kristus bukanlah jalan kenyamanan, melainkan jalan kesetiaan. Situasi sulit adalah ujian bagi kesaksian kita: Di tengah budaya manipulasi, hendaknya kita tetap jujur; ketika disakiti, hendaknya kita tetap mengampuni; ketika ditolak, hendaknya kita tetap mengasihi. Kesaksian sejati tidak berupa kata-kata indah dalam renungan, khotbah, atau lagu-lagu pujian, tetapi terwujud dalam keteguhan hati dan kesetiaan dalam menghadapi realitas yang tidak selalu bersahabat manakala kita berusaha menegakkan kebenaran yang berasal dari Tuhan.

Kita tidak berjalan sendirian. Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan menyertai dan menguatkan kita. Roh Kuduslah yang akan bekerja di dalam hati kita, memberi keberanian saat kita takut, memberi penghiburan saat kita terluka, dan memberi hikmat saat kita bingung dalam mengambil sikap. Kesaksian kita bukan semata-mata hasil kekuatan manusia, melainkan terutama merupakan karya Allah dalam diri kita.

Marilah kita memohon rahmat dari Tuhan, agar ketika lemah, kita diingatkan bahwa Roh Kudus akan memampukan kita, dan ketika merasa ingin mundur, kita diingatkan bahwa panggilan ini bukan beban, melainkan anugerah. Kita dipilih untuk ambil bagian dalam karya keselamatan Allah, untuk menjadi tanda kehadiran-Nya di dunia. Kita tidak perlu takut menghadapi tantangan. Penolakan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan iman. Dalam kesulitan, kesaksian kita menjadi semakin murni dan nyata. Dunia mungkin tidak selalu mengerti, tetapi Tuhan melihat dan berkenan atas kesetiaan kita. Kita dipanggil untuk setia.