
Matius 8:1-4
Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat menahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
***
Peristiwa yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini terjadi setelah khotbah di bukit. Yesus yang turun dari bukit dan diikuti oleh orang banyak berjumpa dengan seorang penderita penyakit kulit yang menajiskan. Orang itu meyakini kuasa Yesus, sehingga memohon kesembuhan kepada-Nya. Memenuhi pengharapan orang itu, Yesus berkenan menyembuhkannya hanya dengan mengucapkan sepatah kata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Mukjizat pun terjadi, seketika orang itu sembuh. Kesembuhan ini menunjukkan bahwa selain berkuasa dalam perkataan (memberikan pengajaran), Yesus berkuasa pula dalam perbuatan (membuat mukjizat). Perkataan dan perbuatan Yesus sama-sama menjadi berkat bagi siapa saja yang beriman kepada-Nya.
Selanjutnya, Yesus meminta orang yang telah pulih tersebut untuk menghadap imam dan mempersembahkan kurban seperti yang diperintahkan Musa. Itulah prosedur untuk menyatakan seseorang sudah tahir dari kenajisan yang dideritanya, sebagaimana tercantum dalam Imamat 14. Bahwa Yesus meminta orang itu untuk melakukan hal tersebut menunjukkan kebenaran perkataan-Nya kalau Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (Mat. 5:17). Yesus dengan itu menunjukkan pula penghormatan-Nya kepada tugas para imam. Ia datang bukan untuk merampas tugas mereka. Dalam rangka menyalurkan berkat Allah kepada manusia, masing-masing pihak memiliki peran yang khas, sehingga tidak semestinya kalau malah bersaing dan saling membenci.
Para pelayan Tuhan sering kali gagal untuk bekerja sama di antara mereka, sehingga misi kemudian berjalan secara tidak optimal, bahkan mengalami kegagalan. Meskipun sama-sama orang baik, sama-sama punya niat baik, dan sama-sama memiliki ide yang baik, sedikit perbedaan sudah cukup mengacaukan semuanya, sebab masing-masing lalu mempertahankan kemauannya sendiri. Terjadilah saling sikut di antara mereka, dan ini menciptakan ironi yang besar, sebab mereka mewartakan Injil yang seharusnya menghadirkan persatuan dan keselamatan, alih-alih perpecahan dan kehancuran. Kabar baik pun akhirnya tidak sampai kepada umat, sebab bagaimana mungkin mereka mewartakan kasih Allah, sementara mereka sendiri saling bermusuhan?
Sebagai pewarta Injil, kita diundang untuk melakukan apa yang kita katakan. Kita pun diundang untuk bekerja sama dengan mereka yang juga dipanggil untuk bekerja di ladang Tuhan. Menuai panenan adalah tugas besar yang memerlukan banyak tenaga. Untuk itulah Tuhan memanggil banyak pekerja yang bisa diutus-Nya. Masing-masing memiliki peran sesuai dengan talenta yang dianugerahkan kepadanya. Jangan bersaing, jangan bermusuhan, tetapi bekerja samalah dengan sebaik-baiknya. Yang terpenting dalam pelayanan ini bukanlah nama kita, kepentingan kita, maupun ide-ide kita, melainkan terwujudnya kehendak Tuhan akan keselamatan anak-anak-Nya.










