
Matius 10:37-42
“Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Barang siapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barang siapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barang siapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barang siapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barang siapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya.”
***
Sejak bangun tidur hingga akan tidur lagi, kita selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Ketika terbangun oleh dering alarm, kita sudah harus memilih apakah akan segera bangun dan mulai beraktivitas ataukah akan melanjutkan tidur barang lima menit atau satu jam lagi. Keputusan untuk memilih yang satu dan bukan yang lain sering kali ditentukan oleh prioritas hidup kita: Apakah kita lebih memilih untuk bermalas-malasan, ataukah melakukan aktivitas yang jauh lebih berguna?
Mengasihi ayah, ibu, kakak, dan adik kita merupakan tindakan yang baik. Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk saling mengasihi satu sama lain. Ia bahkan mengajak kita untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Namun, kasih terhadap orang tua, saudara, dan sesama ternyata harus ditempatkan di bawah kasih terhadap Yesus. Hari ini, Yesus bersabda kepada para murid-Nya, “Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Pertanyaannya, apakah kasih terhadap Tuhan dan kasih terhadap orang tua, saudara, dan sesama merupakan dua hal yang saling bertentangan? Seharusnya tidak! Kalau kita mengasihi sesama, tentu kita akan mengasihi Tuhan. Demikian juga sebaliknya, kalau kita mengasihi Tuhan, berarti kita mengasihi sesama. Namun, mengapa Yesus hari ini seakan-akan mempertentangkannya?
Kenyataannya, di dunia ini, banyak orang memang lebih mengasihi keluarga daripada mengasihi Tuhan. Ada orang yang dengan sadar berbuat jahat demi keluarga, misalnya dengan melakukan korupsi. Ini merupakan bukti konkret bahwa orang jauh lebih mengasihi keluarganya daripada mengasihi Tuhan yang menghendaki kita semua berbuat adil dan jujur.
Karena mencintai Tuhan lebih dari siapa pun, St. Fransiskus dari Assisi dengan berani “melawan” kehendak orang tuanya dan berkata, “Mulai sekarang, bapaku bukan lagi Pietro Bernadone, melainkan Bapa yang ada di surga!” Sama seperti St. Fransiskus, kita pun hari ini diajak untuk berani memprioritaskan Yesus di atas semua yang lain. Demi Dia, kita harus berani memikul salib kita dan mengorbankan segala-galanya, bahkan termasuk nyawa kita sendiri. Barang siapa kehilangan nyawanya karena mengasihi Tuhan, ia akan memperolehnya kembali dalam rupa kehidupan kekal.










