Jangan Melihat Status

Jumat, 31 Juli 2026 – Peringatan Wajib Santo Ignasius dari Loyola

56

Matius 13:54-58

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ.

***

Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?

Yang dialami Yesus dalam bacaan Injil hari ini sepertinya menunjukkan pandangan dunia, di mana kepercayaan terhadap seseorang ditentukan oleh status orang itu. Integritas seseorang seakan-akan ditentukan oleh statusnya apakah dia ini orang kaya, berkuasa, punya jabatan tinggi, dan lain sebagainya. Status menjadi harga mati untuk menentukan tingkat kepercayaan terhadap seseorang. Yang tampak jelek dalam pandangan mata akan disingkirkan, yang terlihat bagus dan megah akan diterima.

Itulah bahan refleksi bagi kita hari ini, di mana Tuhan menjungkirbalikan pandangan manusia ke dalam cara pandang-Nya. Tuhan melihat hati, sehingga apa yang buruk dan tidak berharga menurut kacamata manusia bisa jadi baik dan indah dalam pandangan-Nya. Kita diajak untuk tidak melihat orang lain dari statusnya, tetapi lihatlah hatinya, lihatlah keseluruhan diri orang itu.

Hari ini, Gereja juga memperingati Santo Ignasius dari Loyola. Kisah hidupnya penuh dengan liku. Dari pengejar cinta akan hal-hal duniawi, ia menjadi prajurit tangguh Kristus. Untuk menjadi prajurit Kristus, ada proses yang dilaluinya, hingga ia mampu menemukan kehendak Tuhan di dalam hidupnya. Statusnya sebagai pengejar hasrat duniawi berubah menjadi pelayan dan penyalur cinta Tuhan. Ia pendosa yang diubah menjadi abdi Kristus.

Kita sering terjatuh dengan hanya melihat sarana tanpa melihat tujuan dari hidup dan diri kita. Santo Ignasius dalam Latihan Rohani menuliskan: (1) Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Tuhan, Allah kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya; (2) Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan; (3) Karena itu, ciptaan dapat dipergunakan atau dilepaskan sejauh itu membantu atau menjauhkan kita dari tujuan; (4) Kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tidak ada larangan. Karena itu, dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek.

Dari empat hal itu, ada tiga kunci menyangkut asas dan dasar hidup kita, yakni: (1) Kita dicintai oleh Allah; (2) Kita harus lepas bebas atau memiliki sikap batin yang merdeka; (3) Hal-hal duniawi adalah sarana untuk mencapai tujuan, dan bukan sebaliknya.

Pertanyaan untuk kita refleksikan hari ini: Apakah dalam hidup kita, kita sering melihat status sebagai dasar untuk menentukan sikap kita? Bagaimana kita menempatkan sarana yang kita miliki demi tujuan hidup kita? Apakah tujuan hidup kita adalah sungguh demi kemuliaan Allah yang lebih besar?