Back to Basic

Rabu, 6 Maret 2019 – Hari Rabu Abu   

107

Matius 6:1-6, 16-18

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

***

Kita semua tentu pernah mendengar ungkapan back to basic, yang berarti “kembali ke awal” atau “kembali ke dasar” atau “kembali kepada yang asli.” Ungkapan ini sering dipakai sebagai bentuk pernyataan atau seruan untuk menghidupkan semangat pemurnian atau semangat untuk kepada yang awal dan asli. Dalam kehidupan berorganisasi, misalnya. Ketika dirasa bahwa sebuah organinasi telah banyak menyimpang dari semangat awalnya, seruan itu sangat tepat diungkapkan sebagai bentuk ajakan dan pengingat kembali untuk setia kepada cita-cita dan gagasan awal ketika organisasi tersebut didirikan.

Hari ini kita merayakan Rabu Abu. Dengan merayakan Rabu Abu, kita membuka Masa Prapaskah, masa pertobatan bagi kita. Hari ini, pada dahi kita masing-masing dikenakan abu yang berasal dari daun-daun palma kering yang kita gunakan pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya. Pengolesan ini menyimbolkan hal yang sangat penting, yakni asal dan keaslian diri kita. Ketika abu dikenakan di dahi kita, kepada kita diserukan pertobatan, yang dapat kita bahasakan dengan ungkapan lain, yakni back to basic.

Rabu Abu dengan demikian merupakan tonggak seruan kepada kita untuk kembali kepada diri kita yang asli dan asali. Kita diajak untuk kembali ke taman firdaus, kembali kepada maksud dan gagasan awal Tuhan ketika Ia menciptakan kita semua. Ketika itu, Tuhan hanya menanamkan segala yang baik dalam hati kita.

Seruan serupa muncul dalam bacaan Injil hari ini. Yesus meminta kita untuk tidak dikelabui oleh pandangan mata. Ia juga meminta kita untuk menampilkan diri apa adanya, jangan sampai kita melakukan sesuatu dengan maksud agar dilihat orang. Banyak orang saat itu melakukan hal-hal yang baik dengan tujuan agar dilihat dan dipuji orang lain. Dengan cara itu, mereka tidak sedang menampilkan kesejatian diri. Yang mereka tampilkan adalah “topeng,” yang dimaksudkan untuk kepuasan diri dan hasrat yang dangkal.

Kita yang hidup pada zaman sekarang pun bisa dengan mudah jatuh ke dalam kecenderungan itu. Sering kali kita ingin tampil habis-habisan dengan mengorbankan segala hal hanya demi dilihat dan dipuji banyak orang. Kita bersandiwara agar orang lain menyukai kita. Pergeseran nilai pun terjadi. Yang kemudian dipentingkan adalah penampilan, bukan lagi mutu dan kualitas.

Karena itu, kita patut mawas diri. Hari ini kita dipanggil untuk kembali kepada diri kita yang asli, sesosok manusia yang digambar, dibentuk, dan dicita-citakan Allah. Gambar, bentuk, dan cita-cita tersebut disemai dalam hati kita masing-masing. Jangan lagi mengejar dan bersandar sanjungan-sanjungan orang, marilah kita back to basic. Kenali diri kita sendiri dengan baik, dan bertumbuhkembanglah dengan subur. Itu yang dikehendaki Allah terjadi pada diri kita semua.